Abu Farhat Photoblog

Mujahadah

Posted in Ibrah by abufarhat on August 26, 2010

“salam.. macam mana cara untuk kita betul2 istiqamah untuk sentiasa bertaqwa?”

Begitu lebih kurang seorang pengunjung blog ini bertanya. Ia terkait dengan artikel saya tentang Taqwa & Takut.

Seandainya saya diminta untuk mengertikan Istiqamah, nescaya saya akan memilih kalimat Mujahadah. Mujahadah, yang merupakan Masdar atau kata terbitan dari Jahada, adalah menggambarkan keadaan seseorang yang bersungguh sungguh, dengan sedaya upaya, untuk tetap tegar, kuat, Tsabat dalam jalan Islam yang lurus; Mustaqim, seperti yang digambarkan dalam Al Fatihah yang kita baca tiap tiap hari.

Dalam konteks zaman yang penuh dengan fitnah, keadaan disekeliling, samada dirumah, ditempat belajar atau ditempat kerja yang cenderung tidak membantu kesuburan iman, adalah satu hal yang niscaya untuk sewaktu waktu kita tersasar dari hal yang telah kita sepakati sebelumnya, iaitu jalan yang lurus yang kita yakini dapat membawa kita ke gerbang syurga.

Saya suka untuk mengambil contoh seorang musafir yang ingin memulakan sebuah perjalanan. Bayangkan, ada seseorang yang ingin pergi kesuatu tempat, yang cukup jauh, untuk tujuan kebaikan. Sasaran akhir dari perjalanan tersebut adalah syurga. Hanya ada satu jalan saja yang mengarah kesana.

Perkara pertama yang perlu disiapkan adalah BEKAL. Dalam konteks taqwa,tidak ada bekal yang lebih baik daripada aqidah dan fikrah(cara pandang) yang benar. Kerana itu tidak ada kompromi dalam hal yang satu ini. Seorang yang memiliki aqidah dan prinsip hidup yang mapan, tidak akan goyah, meski diberikan pelbagai situasi.

Perkara yang kedua adalah TEMAN SEPERJUANGAN. Perjalanan yang jauh akan terasa lebih dekat dan ringan dengan adanya teman, sahabat yang sudah tentu mempunyai BEKAL yang sama. Siapakah yang dapat memberi mudarat kepada Muhammad, kekasih Allah jika beliau pergi ke Madinah sendirian? Toh, tetap, Nabi memilih untuk bersama Abu Bakar. Pemilihan teman atau sahabat ini sangat penting kerana ia akan turut menentukan arah selanjutnya. Seperti mereka yang bersahabat dengan Tukang Besi, meski tidak berbuat apa apa, tetap bau hangit besi akan lekat pada pakaiannya. Begitu juga dengan mereka yang bersahabat dengan penjual minyak wangi, paling tidak akan ada wangian yang menempel pada tubuh mereka. Bukanlah bererti kita mesti memilih hanya mereka yang sama sama memahami Islam dan meninggalkan yang lain, kita perlu untuk menjalinkan hubungan yang baik dengan segenap elemen masyarakat kerana seluruh masyarakat adalah objek dakwah yang memerlukan kita berinteraksi dengannya. Namun, kita mesti mempunyai sahabat atau circle of friends yang bukan hanya diam ketika kita berbuat kesalahan, sebaliknya mampu menguatkan kita agar tetap berjalan, mengangkat kita ketika kita jatuh dan kalau perlu memapah kita untuk tetap dijalan yang lurus.

Yang ketiga, seandai dalam perjalanan tersebut, sang musafir kemudian merasakan dia sudah tersesat, atau sedikit melencong dari jalan yang sebenarnya, bersegeralah kembali ke tempat dimana dia mulai tersalah langkah, bukan malah meneruskan lagi perjalanan tersebut meski tidak yakin dengannya. Ketika berbuat kesalahan, samada dalam bentuk maksiat kepada Allah atau kepada manusia, meskipun ia sekadar dosa kecil, prinsip “alang alang menyeluk pekasam”  jangan sekali kali dipakai guna. Beristighfarlah, nescaya Allah sendiri yang akan meyuluh jalan kembali.

Bagaimana pula kalau gejala yang muncul dengan menurunnya iman berupa malas untuk melakukan amal ibadah khusus? Cara yang paling berkesan adalah untuk tetap melakukan ibadah tersebut, mulakan dengan yang sedikit, tetapi konsisten. Misalnya ketika timbul perasaan malas membaca Al Quran, tetaplah membaca meskipun hanya 3 ayat. InsyaAllah, kemanisan beribadah akan perlahan lahan kembali.

Perjalanan yang panjang juga memerlukan untuk kita sekali sekala berhenti sejenak, untuk mengganti tenaga yang hilang, menguatkan kembali azam. Disini letaknya hiburan dunia yang halal. Ia seumpama kita berhenti sebentar di R&R , untuk mengisi perut dan menghilangkan ngantuk. Namun waktu rehat tersebut jangan sampai terlalu lama. Seperti kalau kita tidur melebihi keperluan, yang akan kita dapat bukan kesegaran tetapi penat dan lesu  yang bukan hanya ketika terbangun, tetapi juga akan mempengaruhi aktiviti kita sepanjang hari tersebut.

Dan yang terakhir, namun tidak kalah penting, harus tertanam dalam hati kita MERASA CUKUP DENGAN ALLAH. Suatu hal yang sinonim dengan musafir adalah dipandang sebagai orang asing oleh kebanyakan orang. Kalau seseorang takut untuk bertemu dengan suasana baru yang mungkin akan membuatnya dipandang rendah, nescaya si musafir tidak akan kemana mana. Jangan takut untuk dipencil kerana tetap istiqamah ketika hampir semua disekeliling kita sedang hanyut. Jangan pernah merasa rendah diri dengan pendirian yang kita ambil meskipun ia membuatkan kita kelihatan aneh dimata manusia. Bergembiralah, siapa tahu kita diberi peluang untuk termasuk dalam “Fiatun Qalil (kelompok kecil), Ghuraba’ (orang asing) dan mereka yang memegang islam dengan teguh meskipun ia perit seperti memegang bara api yang panas. Fa Qul Hasbiyallah…

Ini hanyalah sebahagian cara yang saya lihat dapat membantu untuk tetap mujahadah atau istiqamah. Bukanlah bererti saya seorang yang sentiasa tetap dijalan yang benar, tetapi saya percaya, jatuh tersungkurnya kita, jika disikapi dengan cara yang betul dan keazaman yang kuat, akan mengundang rahmat Allah untuk seterusnya membimbing kita dengan cahayaNya yang tidak pernah pudar.

But as for those who strive hard in Our cause -We shall most certainly guide them onto paths that lead unto Us: // <![CDATA[// for, behold, God is indeed with the doers of good.

Wallahua’lam.

Advertisements

2 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. aisyah said, on August 27, 2010 at 11:03

    salam..jazakallahu khairan kathiro..

    Entri yang ‘membuka hati’

    Mungkin ‘bekal’ yang saya sediakan belum cukup utuh untuk meneruskan perjalanan dan mencapai matlamat sebenar. Dan mungkin saya kurang merasakan keberadaan Allah dengan saya menjadikan semangat untuk mujahadah itu lemah.

    walau apa pun tahniah, entri yang bagus, semuga bermanfaat untuk semua..

  2. abufarhat said, on August 27, 2010 at 11:03

    kita semua merasakan hal yang sama.yang penting, tetaplah melangkah…meskipun perlahan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: