Abu Farhat Photoblog

Kisah Manusia Luar Biasa 1

Posted in Abu Farhat Path by abufarhat on May 7, 2009

Tubuh anaknya panas,lemah
Suaranya antara dengar, badannya mulai cengkung
Sudah beberapa hari anaknya makannya terganggu
Naluri kebapaannya tersentuh
Dia cuma berfikir, menalar, sekiranya masih ada hal yang bisa ia lakukan
Setidaknya untuk meringankan derita anaknya
Dia sudah membawa anaknya ke doktor
Sudah memberikan anaknya ubat yang disarankan.
Tidak ada
Tidak ada lagi yang dapat ia perbuat
Sekarang tinggal Qadar yang diatas
Dia masih berbelah bagi
Antara naluri seorang ayah
Yang ingin mendampingi anaknya
Atau meneruskan amanah dakwah yang dia sudah bersumpah untuk berjuang dijalannya
Malam itu dia memiliki jadual taujih bersama kader dakwah yang kemudian dilanjutkan dengan aktiviti Qiyamullail berjemaah.

ABI:Ummi, Abi pergi dulu ya.
UMMI:Pergi kemana abi, anak kita kan tengah sakit tenat.
ABI:Abi ada program malam ini. Tentang anak kita, semua usaha sebagai seorang manusia abi dah buat.
UMMI: Tapi kalau anak kita meninggal bagaimana?
ABI : Biarpun Abi terus berada disisi anak kita, memerhatikannya, tapi kalau seandainya Allah menghendakinya meninggal, tetap ia akan terjadi.

Malam itu, sementara menjawab kemusykilan yang diutarakan para hadirin, datang telefon dari isterinya membawa khabar, bahawa anaknya yang sakit itu telah dipanggil oleh Allah.

Dalam gundah yang hebat dalam jiwa seorang bapa, lelaki itu berusaha untuk tetap tegar, meneruskan pengisiannya yang belum selesai, tanpa diketahui para hadirin sampai selesai.

Setelah ceramah selesai, dia menghubungi isterinya, meminta dihubungi beberapa orang yang dia percaya mampu mengurus pengebumian anaknya.

Dan malam itu, dia tetap meneruskan program qiyamullailnya sampai setelah subuh. Dan setelah subuh, baru dia menziarahi anaknya, yang sudah berada 6 kaki dibawah tumpukan tanah yang masih merah.

Tidak ada siapa yang akan menyalahkan beliau kalau seandainya dia membatalkan ceramahnya dengan alasan anaknya sakit tenat. Siapakah yang akan mempersoalkan jika dia meminta izin untuk tidak mendampingi Qiyamullail malam itu untuk mengurus kematian anaknya?

Ini adalah secebis kisah kehidupan, dari seorang Asy Syahid Hasan Al Banna. Betapa matlamat hidup yang jelas, yang tertanam dalam jiwa, mempengaruhi gerak langkah malah emosinya.

Meski dia tetap seorang manusia, dengan segala keterbatasan basyariyyahnya, sebagai seorang guru besar dakwah, pertimbangannya harus lebih besar dari kapasiti seorang manusia biasa biasa.

Kisah hidupnya menjadi contoh atau renungan untuk kita, seberapa fahamnya kita tentang Tawakkal, sejauh mana kalimat “Nahnu Du’at Qabla Kulli Syaik” betul betul sebati, menyatu dalam peribadi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: