Abu Farhat Photoblog

1 Malaysia

Posted in Uncategorized by abufarhat on January 1, 2010

1 Malaysia.
Slogan baru perdana menteri Malaysia sekarang.
Najib Tun Abdul Razak.
Biasanya, respon orang terhadap perkara ni ada 2, sekali lagi biasanya.
Satu, yang menyokong habis habisan dan mengkhinzir buta tanpa melihat secara realistik demi naik pangkat atau sewaktu dengannya.
Di pihak yang lain, yang menentang habis habisan, melihat, tapi cuma dari satu sisi sahaja. Sisi negatif.
Saya bukanlah peminat perdana menteri, tapi saya suka untuk melihat sisi positif dari slogan tersebut.

Setidaknya dari apa yang saya rasa. Peniaga cina kelihatan lebih ramah sejak kempen ini berjalan. Begitu juga dengan etnik lainnya. Itu yang saya rasa sendiri.

Sebenarnya, prinsip 1 Malaysia ini memiliki sedikit persamaan dengan cara Rasulullah memerintah Madinah. Rasulullah menanamkan perasaan perasaan cintakan tanahair termasuk dalam hati hati orang bukan Islam. Kerana itu adalah fitrah. Yang ada pada setiap orang yang sekiranya diarahkan dengan betul, terdapat didalamnya manfaat yang banyak.
Bukankah menyebar kasih sayang itu lebih dekat dalam Islam, lebih manusiawi dari menyebar rasa prasangka dan dengki?

Tapi seperti yang saya sebut, memiliki sedikit persamaan dengan Islam. Tidak sepenuhnya islamik. Sama seperti demokrasi. Memiliki nilai keadilan, namun tidak sepenuhnya benar.

Kaitan dengan ilustrasi? Peristiwa Yahudi Bani Nadir adalah diantara bukti ketegasan dalam kasih sayang. Nabi mengajarkan, menyuburkan kasih sayang sesama penduduk Madinah, tetapi sangat tegas jika ada yang cuba merosak budi baik Islam. Seperti juga ketika seorang muslimah diganggu seorang yahudi yang nakal.

Mengubah kerajaan seperti yang kita nak, bukan suatu pekerjaan yang mudah-sekejap. Jadi, sebelum kita berfikir untuk mengurus sebuah negara, tidak ada salahnya mengambil atau memandang positif, hal yang memang dapat membawa kebaikan.

Soal asad orang, hidden agenda dan sebagainya, bukanlah alasan. Rasulullah sudah tentu tahu jika ada musyrikin yang hasad, muslimin yang nifaq, tetapi selagi belum wujud dalam perilaku, persaudaraan insaniyyah masih terus berjalan.

Dalam hal ini, prinsip who’s us to judge saya fikir boleh digunapakai.

Wallahua’lam

Photo from Phone

Posted in Uncategorized by abufarhat on December 30, 2009

Contemplation

Posted in Uncategorized by abufarhat on December 27, 2009

Pilgrimage of Life [Part III]

Posted in Uncategorized by abufarhat on December 26, 2009


Seakan terdengar gemercik kilau pedang dan suara tentera muslimin yang tumbang. Secara peribadi, disini, di bawah Jabal Uhud inilah perang yang paling berkesan dihati umat Islam. Bukan hanya soal kesetiaan kepada perintah Rasulullah, namun lebih dari itu. Ia adalah sebuah turning point sebelum umat terbaik tersebut benar benar bersedia memikul beban yang tidak ringan. Dan 1430 tahun kemudian, kawasan tersebut menjadi antara pusat penjualan kurma terbesar di luar Madinah.


Kawasan yang beberapa hari yang lalu antara kawasan tersesak di dunia, selesai musim haji menjadi seperti pekan mati. Setidaknya tidak ada yang tinggal sekitar radius 5-10km di tempat tersebut. Hanya suara rombongan kami yang terdengar.


Betapa ironis, di Masjid Tua yang ditinggal, terabai adalah saksi kekuatan Bai’ah kepada Allah lewat lisan Rasul. Di tempat inilah tapak pembinaan Negara Pertama Islam. Ketika Rombongan 12 orang (Aqabah I) dan 70 orang (Aqabah 2) dari kaum Anshar, membuat janji setia akan membela Nabi dan para sahabat lainnya yang dari peristiwa inilah kemudia berproses kepada Hijrah. Usang, tapi cukup buat bulu tengkuk meremang. Subhanallah


Bekas rumah Khalifah Pertama, Abu Bakr yang dijadikan Masjid.


Dan Nabi membuktikan cintanya bukan dengan janji janji khayalan. Nabi mendaki bukit ini-Jabal Nur beberapa kali dalam seminggu untuk “memadu kasih” dengan Sang Pencipta di Gua Hira’. Dan pemilihan tempat tersebut bukan tanpa alasan, tetapi dari luar Gua Hira’, dapat terlihat jelas aktiviti disekitar Kaabah,pusa kegiatan kaum Quraisy. Nabi bukan melarikan diri, tapi beruzlah sembari mengatur strategi.


Di belakang pagar ini terdapat sebuah bangunan pentadbiran Madinah. Di halaman tersebut, tepat dibelakang saya adalah Tsaqafah Bani Saadah, tempat musyawarah terpenting, mencari Khalifah pengganti Rasulullah.


Di kaki Jabal Ar Rahmah. Typical pose.


Terlalu banyak Ibrah yang saya dapat kutip. Samada ketika ibadah ini dilakukan (lebih kurang 8 tahun yang lalu), beberapa ketika sesudah pulang, sampailah sekarang, ketika berceloteh diposting kali ini. Ini salah satu dari mukjizat ibadah. Kemabruran Haji bukan hanya selama 40 hari. Bukan hanya pada panggilan. Tapi ditentukan sampai dengan titik penghabisan. Ketika bertemu Rabbul Jalal.

Pan-OH~-rama

Posted in Uncategorized by abufarhat on December 24, 2009

“…abang, abang…abang dapat ape?..”

Photo from Phone

Posted in Uncategorized by abufarhat on December 21, 2009

Antara Taqwa dan Takut

Posted in Uncategorized by abufarhat on December 20, 2009

Jujurnya
Saya paling tak suka naik flight
Sebab Mahal
Sebab Leceh (kene pegi airport, check in, limited luggage (goes to you Mr Tony Fernandes)
Dan yang paling penting rasa tak selamat.
Kita dilahirkan dari tanah, dan kita rasa tenang selagi kita berpijak di tempat dari mana asal usul kita.

Gambar diatas saya ambil dalam perjalanan ke Makassar beberapa waktu lalu.
Musim pancaroba yang tidak sesuai dengan kehendak kita tapi tidak bagi Allah, membuatkan kapal terbang beberapa kali bergoyang.
Dan seorang sahabat yang saa temui di dalam pesawat(yang paling dekat dan sedang menutup mata), beragama Kristian , yang sejak sebelum take off berborak sakan akan terdiam dan seolah olah berdoa tiap kali pesawat memasuki turbulensi.

Mulanya saya juga berbuat demikian, namun setelah kali ketiga, saya terfikir, apa perbezaan antara saya yang beragama Islam, dan dia yang beragama Kristian? Sama sama takut Tuhan? Atau sama sama takut mati?

Dan sesungguhnya taqwa dan takut (khauf) itu tidak sama. Taqwa itu dibina dalam waktu yang tidak sekejap, sedangkan takut itu bersifat tiba tiba dan sebentar. Cepat datang, cepat juga pergi.

Manusia memang diberikan fitrah untuk merasakan kebesaran Tuhan. Sekuat apapun manusia cuba lari dari hakikat tersebut, pada saat hampir dengan maut, bahkan seorang penganut Atheis yang paling hardcore pun, akan meminta pertolongan Tuhan. Fir’aun Ramses II setidaknya telah membuktikan hal tersebut.

Sama juga dalam hal beribadah. Semua manusia, bukan hanya Islam, tapi juga yang kufur, bukan sahaja yang soleh, tapi juga yang fasiq, dapat merasai kemanisan memegang watak seorang hamba. Sebab itu jangan hairan , kalau ada artis yang mengatakan beliau menangis semahu mahunya didepan Kaabah, namun setelah pulang, kembali seperti dulu, seksi seksa, tanpa sebarang perubahan. Bukan bererti artis tersebut menipu, tetapi manusia secara fitrah, memang suka merasa tenang apabila menggantungkan sesuatu kepada Zat yang lebih tinggi. Dan terpulang kepada manusia untuk menjadikannya sebagai titik perubahan atau sekadar untuk bermain main dengan Tuhan.

Kembali kepada senario diatas pesawat.
Apa bezanya kalau kita juga hanya mengingati Allah dalam keadaan susah, menakutkan? Dan setelah ancaman itu hilang, rasa takut itu tidak membawa kita kemana mana?

“Dan tidak ada gunanya taubat itu kepada orang-orang yang selalu melakukan kejahatan, hingga apabila salah seorang dari mereka hampir mati, berkatalah ia: “Sesungguhnya aku bertaubat sekarang ini.” (sedang taubatnya itu sudah terlambat), dan (demikian juga halnya) orang-orang yang mati sedang mereka tetap kafir. Orang-orang yang demikian, Kami telah sediakan bagi mereka azab seksa yang tidak terperi sakitnya.” [An Nisa-18]

Meski demikian, tetap, berdoa diwaktu susah adalah lebih baik dari tidak sama sekali. Malah, ibadah kita terasa lebih manis dari biasa kerana ada faktor merasa sangat tergantung dengan Allah. Namun dalam skala yang lebih besar, taqwalah yang kemudian akan memastikan, apabila ajal menjemput, mengucapkan atau membenarkan keesaan Allah itu terasa mudah dang ringan untuk dilafazkan.
Dari lubuk hati yang paling dalam.

Pan-OH~- rama

Posted in Uncategorized by abufarhat on December 18, 2009

It has been awhile since i have no digital camera to play with, apalagi DSLR. Dan satu satunya yang berfungsi sebagai kamera is my K770i Sony Ericsson handphone.

Salah satu yang menarik pada handphone ini adalah “panorama mode“nya. Dengan semakin “wide“, suatu gambar akan punya lebih banyak cerita, tentunya tanpa mengabaikan aspek “minimizing distractions“.

Dan kedepan, saya mungkin akan meng”upload” gambar yang diambil dengan mode ini, ditambah dengan sedikit caption, untuk lebih menonjolkan jalan cerita. Seperti biasa, kritikan anda sangat membantu. Really.

The Pilgrimage of Life-Part 2

Posted in Uncategorized by abufarhat on December 15, 2009

Gambar ini diambil beberapa waktu sebelum musim Hajj bermula. Unta unta ini berkeliaran di tepi jalan seperti lembu berkeliaran di jalan jalan kampung Juasseh. Saya meragukan kalau ada banyak local people yang mengambil gambar bersama unta. Dan saya berharap pandangan mereka tak seperti kalau ada orang yang datang Malaysia dan tiba tiba berkumpul dengan penuh ceria untuk bergambar dengan lembu. I should’ve took photo with Qibash instead.

Inilah member member paling muda yang saya boleh dapat. Menjadi paling muda dalam rombongan saya membuatkan berat badan saya meningkat dengan drastik. Maklumla, orang tua tua ni suka beli, tapi tak berapa ngam dengan selera arab. Guess who was offered to finish them?

Ada ustaz yang mengatakan tanah di Mina adalah yang paling mahal di seluruh jazirah. Ini bukan fatwa. Hanya kata kata seorang ustaz yang lahir dan membesar di Malaysia. Tapi memang ada korelasi antara pernyataan tersebut dengan realiti di mina. Khemah ini saya hanya masuk pada waktu siang. Kalau malam, meski saya pergi dengan pakej travel, khemah tersebut terlalu sempit, walau sekadar untuk melunjurkan kaki. Untuk sekadar mencari tempat bersandar di masjid saja sudah cukup susah. Tapi disinilah letaknya i’jaaz manasik manasik dalam Islam. Masalah duniawi hanya menambah kemanisan beribadah.

Dari kiri, Abu Farhat, Allahyarham Pak Lang Hasan, Mama, Makcik (Dr) Naziah. Hari pertama setelah membotakkan kepala (Tahallul), suhu yang dingin membuatkan saya terus terkena selesema. Maklumla, kali terakhir botak licin sebelum itu mungkin sewaktu aqiqah saya dulu, tak biasa.

Nanti sambung lagi.

Photo from Phone

Posted in Uncategorized by abufarhat on December 15, 2009